Posts Tagged ‘PRU’

Nawaitu

Mac 7, 2008

Aku mendapat khabar dari Nawi bahawa para Partai Ahli Suci sudah pasang niat untuk puasa pada hari Khamis sempena PRU kali ini.

Kemudian aku mula menconga-congak; apa yang mereka lafaskan untuk pasang niat Puasa PRU?

Maka aku beri contohlah kepada para pemesang niat untuk tiap-tiap ibadat kalau-kalau mereka tak tahu lafaznya:

“Nawaitu saumaghadin an ada ee sunnati PRU”

[sebenarnya aku juga tak tahu lafaz seperti ini. Tapi yang penting, lafaz melafaz ini kerja lawak]

Advertisements

Menifesto

Februari 29, 2008

Masih dalam ingatan aku bagaimana teman-teman berucap diatas pentas ketika aku berumur 16 tahun. Mereka menjanjikan sekian banyak angan-angan setelah usai menggantungkan lambang-lambang partai mereka. Ada patia pisang, partai Pokok, partai Bot. Dan janji yang mereka ucapkan itu ada berlegar diluar logika.

Apakah boleh dipercaya bahawa Mamu mau dirikan stadum bola dipadang sekolah kalau dia menang jadi pengawas? Bagaimana mau menerima ide menjadikan sekolah tampa pakaian seragam seperti di Amerika? Dan yang paling menggelikan hati adalah janji Laloq untuk tidak perlu ke sekolah lagi kalau dia diundi dan menang persiden.

Justeru oleh kerana terasa bahwa diri aku ini bakal menjadi perdana menteri malaysia suatu masa nanti, makanya aku telah siapkan sedikit menifesto aku awal-awal.

 1) Aku akan bikin jalanraya baru 10 tingkat untuk elak kemalangan

2) Aku akan bikin “hiway” disetiap kampung

3) Aku akan memberikan sebuah rumah secara percuma kepada setiap rakyat

4)

5)

6)

tuan-tuan boleh lah isis ide untuk membantu aku menyiapan menifesto pilihanraya

Munajat Di Kala Pemilu

Februari 29, 2008

Saya keluar rumah dari Dato Keramat menuju ke pejabat – Danau Desa – dengan keadaan hingar bingar dan semput-semputan. Kereta bergerak perlahan sambil mengesot macam anak kecil yang baru mau belajar meranggak. Semua mobil dan spedar berbaris panjang macam mau masuk bilik darjah. Pelan-pelan sambil melintasi orang yang memegang bendera merah ditangan. Dia – orang itu, selalu melambai-lambaikan benderanya.

Selepas melintasi orang itu, seperti anak murid yang telah melangkah masuk bendul pintu, maka berlarianlah menuju ke meja sendiri. Maka begitulah para mobil dan spedar tadi yang telah berlama-lamaan sambil mengetib bibir masing-masing kerna pasti mereka akan tiba lewat di kantor masing-masing.

Lalu malamnya pula saya ke Bukit Bintang, ketemu sama pyan – empunya ikatkata – dan seperti siangnya itu lah, maka saya terpaksa mengambil jalan yang jauh walhal dari tangga rumah saya ke Bukit Bintang itu hanya mengambil masa sekitar 15 minit. Ini kerna jalan ditutup – bikin jalan baru [naik taraf].

Kemudian saya berpikir, mengapa tak dinaik taraf saja jalan itu pada bulan June nanti, atau Agustus saja? Atau Disember tahun lalu? Mengapa jalan itu mau diganyang ketika pemilu mampir? Hummmm apakah ini bisa kita panggil sebagai Jalan Raya Politik? Mungkin juga.

Dan dengan sengaja juga, seluruh massa yang ada menunjukkan bahawa manusia-manusia yang pemurah bermunculan meghulur tangan menggapai salam marga marhain. Begitu juga manusia yang dhaif yang selama ini tertindas dengan kejamnya dunia mendapat habuah dari bantuan ikhlas orang “dermawan”. Para peneroka mendapat rumah baharu, para petani dibantu, dan dengarnya nanti akan dibuka sekolat Tamil baru di satu kawasan.

saya terus bermonolog lagi; apakah hantu pemilu itu sungguh menggerunkan sehingga para politikus kita berlomba-lomba mau buat kebajikan, seperti esok sudah tiada.

Kan indah kalau tiap-tiap tahun Pemilu dijalankan. Pasti banyak para dermawan dan para manusia berjiwa rakyat datang membanting tulang menolong umat.