Munajat Di Kala Pemilu

Saya keluar rumah dari Dato Keramat menuju ke pejabat – Danau Desa – dengan keadaan hingar bingar dan semput-semputan. Kereta bergerak perlahan sambil mengesot macam anak kecil yang baru mau belajar meranggak. Semua mobil dan spedar berbaris panjang macam mau masuk bilik darjah. Pelan-pelan sambil melintasi orang yang memegang bendera merah ditangan. Dia – orang itu, selalu melambai-lambaikan benderanya.

Selepas melintasi orang itu, seperti anak murid yang telah melangkah masuk bendul pintu, maka berlarianlah menuju ke meja sendiri. Maka begitulah para mobil dan spedar tadi yang telah berlama-lamaan sambil mengetib bibir masing-masing kerna pasti mereka akan tiba lewat di kantor masing-masing.

Lalu malamnya pula saya ke Bukit Bintang, ketemu sama pyan – empunya ikatkata – dan seperti siangnya itu lah, maka saya terpaksa mengambil jalan yang jauh walhal dari tangga rumah saya ke Bukit Bintang itu hanya mengambil masa sekitar 15 minit. Ini kerna jalan ditutup – bikin jalan baru [naik taraf].

Kemudian saya berpikir, mengapa tak dinaik taraf saja jalan itu pada bulan June nanti, atau Agustus saja? Atau Disember tahun lalu? Mengapa jalan itu mau diganyang ketika pemilu mampir? Hummmm apakah ini bisa kita panggil sebagai Jalan Raya Politik? Mungkin juga.

Dan dengan sengaja juga, seluruh massa yang ada menunjukkan bahawa manusia-manusia yang pemurah bermunculan meghulur tangan menggapai salam marga marhain. Begitu juga manusia yang dhaif yang selama ini tertindas dengan kejamnya dunia mendapat habuah dari bantuan ikhlas orang “dermawan”. Para peneroka mendapat rumah baharu, para petani dibantu, dan dengarnya nanti akan dibuka sekolat Tamil baru di satu kawasan.

saya terus bermonolog lagi; apakah hantu pemilu itu sungguh menggerunkan sehingga para politikus kita berlomba-lomba mau buat kebajikan, seperti esok sudah tiada.

Kan indah kalau tiap-tiap tahun Pemilu dijalankan. Pasti banyak para dermawan dan para manusia berjiwa rakyat datang membanting tulang menolong umat.

Label: , , , , ,

Satu Respons to “Munajat Di Kala Pemilu”

  1. ikatkata Says:

    Itu bukan jalan raya. Tapi pilihan jalan raya.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: