Archive for May, 2008

Lalai

May 16, 2008

“Mungkin bangsa manusia hari ini yang telah hilang kepercayaan kepada Tuhan, adalah kerana kita terluput satu perkara dan patut kita ingatkan kembali hal tersebut. Kalau setiap tahun kita cuba mengingati diri kita, diri ibu bapa, kerabat, dan kekasih kita, malah para agamawan pun akan mengingat nabi-nabi mereka, namum malangnya agamawan itu tak terdongak ke langit - mereka engkar untuk mengingat tuhan. Mungkin kerna tuhan itu wujudnya tak berawal, lalu kalau tuhan itu punya tarikh maujud, patutnya agamawan kita akan mengadakan “Happy Birthdat God” - badutagama.blogspot.com

Halalan Tayyiba

May 11, 2008

“Ini yang halal diguna” sambil tangan En Zaid menunjukkan produknya yang telah mendapat halal. Sebuah Tiang lampu!

 

Yang TerSurat-Khabar & Yang Tersurat

May 5, 2008

“Kalau yang berhimpun itu jumlahnya 20, 000 orang yang mendengar bicara Anwar Ibrahim. Yang ditulis dalam Press Utama Negara hanyalah 2000″ - Pyan Ikatkata

 

Catatan: Saya bukan penyokong DSAI dan bukan juga penyokong AMNO. Saya penyokong Partai Biasa - seperti kata We We, penulis pojok majalah Tempo.

Genius

May 4, 2008

Memang orang yang lebih pandai bisa membodohi orang yang kurang pandai - dalam sesuatu hal - malah orang yang mengerti akan mudah menipu manusia dungu.

Cukuplah bagi seorang manusia, kalau dia punya satu kepandaian banding manusia lainnya, maka segal apa yang dia tuturkan seolah-olah ma’sum dan sedarjat Al Kitab. Maka manusia yang lainnya hanya menurut dan membontotinya sambil mendengus: “dia manusia alim, bestari, cendiaka, dan yang paling penting dia lebih mengerti banding kita semua”.

Tetapi yang manusia lungu itu tak terjangkau pikir nya ialah manusia “bijak” itu pun adalah seorang manusia. Dan manusia itu adalah seorang yang pasti berbuat silap. Lalu mungkin-mungkin “fatwa” nya adalah satu kesilapan semasa mereka mengekorinya.

Begitulah tabiat manusia. Sehingga kehilangan seorang budak perempuan beberapa bulan lepas [sebelum PRU 12] sempat dirujuk nasibnya kepada seorang budak lelaki yang kononnya punya pengetahuan paranormal - mistik - yang mampu mengesan jejak kelibat manusia yang ghaib hilang, yang herna dia boleh menyelesaikan perkiraan ilmu kira-kira yang selalunya untuk orang dewasa. Tetapi hingga kini “korban” masih tak kungjung ketemu.

Ini hal yang berkaitan dengan keyakinan [yang bisa menggiring ke sorga atay bakaran neraka], tetapi manusia lungu tak peduli asalkan dia manusia yang dinobat “genius”.

Begitu juga selepas PRU 12, kita baru-baru ini digemparkan dengan aksi seorang anak “genius” yang melacur. [Wah! dia sudah dapat 2 kenikmatan; pertama kenikmatn berseggama, dan kedua dia mendapat wang yang lumayan!]

Lalu seluruh [kalau boleh saya katakan] rakyat muslim / melayu Malaysia merasa keciwa dengan tindakan Safiah ini.

Saya tiada kaitan dengan Safian, dan SAafiah tak mengenali saya. Tapi yang ada adlh dia menganut agama yang saya yakini. Ini sahaja. Justeru dia sudar seagama saya. Persoalan nasionalitas nya bukan agenda utama bagi saya. Tetapi ada beberapa hal yang kita harus sadar;

Pertama bahawa “genius” itu apa? Apakah “genius” itu adalah kepandaian kehadapan bagi seorang insan, seperti seorang anak yang baru lahir 5 bulan bisa terus bercakap? Atau seorang renta yang usianya hampir menjangkau 150 tahun? Ini pasti bukan “genius” yang kita mahukan.

Justeru yang kita pahami dari kata “genius” adalah keadaan seorang manusia yang membikin / merekacipta / berpikiran yang menjaungkau zaman. Seperti “genius” nya nabi yang datng membawa ajaran yang tak lapuk dek ujan, atau seperti Ibn Taimiyyah yang punya fatwa-fatwa yang masih bersesuaian dengan zaman ini.

Tetapi kalau sekadar bisa menyelesaikan masalah pengkamiran dalam usia 9 tahun, itu adalah “pandai matematik”, bukannya genius. Yang boleh kata genius ialah bila dia menemukan formular dalam matematik yang bisa mengubah paradikma ilmu kira dan mengundang kemajuan teknologi dari kira-kiranya / rumusnya. Adi putra dan Safian adalah 2 insan yang Tuhan karuniakan kebolehan untuk bijak matematik. Tetapi Tuhan tidak memberi ilmu-ilmu lain kepada mereka. Tanyakan kepada mereka, apakh mereka bisa melukis seperti Leanado, atau bermain ayat-ayat puisi seperti Subawaih atau mereka bisa menjadi loyar dan doktor pada usia 10 tahun?

Justeru, kita tidak meletakkan sesuatu pada bukan letaknya.

Kedua; Safian dan Adi Putra bukanlah maksum. Dan Islam itu bukan Safian dan Adi Putra. Yang benar adalah mereka penganut Islam. Lalu keduanya bukanlah gambaran mutlak Islam sehingga hari ini METRO di muka hadapannya meletakkan ayat “seolah-olah cerita pelacuran Safiah dan pemenjaraan ayahnya adalah rencana menghancurkan Islam”.

METRO harus mencari pelanggan untuk survival mereka, maka teg line seperti ini adalah menjadi keutamaan. Tetapi sebenarnya apa yang METRO utarakn adalah pikiran rakyat. Sesungguhnya banyak rakyat kita merasa begitu. Tanpa kita sadr bahw pikiran itu adalh pikiran yang menyongsang dari waras.

Saya Islam, tetapi Islam bukan saya. Kalau disebut Islam, yang kita terbayang adalah ajaran-ajarannya, Tuhan, Rasul, al quran, solat dan banyak lagi. Malah sat saya mengungkapkan Islam, sy tak terbayangpun diri saya dalam minda ini. Tetapi kalau dikatakn Penganut Islam itu, terus saya membayangkan diri sendiri.

Nah, kalau begitu, Islam itu bukannya Safiah. Lalu sudah menjadi lumrah bahaw bagi tiap-tiap keyakina itu harus punya kesesatan dan perbuatan engkar dari pengikutnya. Ini kerana manusia itu tadi tidak ma’sum. Ketika pengikut agama melakukan kejahatan, apakah kita melabel “inilah ajaran agama yang dianut si polan”? Pasti kita tak harus berkata begitu.

Oleh kerana itu, saudara janganlah kuatir kalau ada orang berkata bahawa “Islam tercemar hanya kerna perbuatan Safiah dan ini adalah sebuah konspirasi Barat”, kerana orang yang berfikir begitu adalah yang yang bahalul; tidak punya minda kelas pertama.

Kalau kita menggunakan dacing “kesalahan penganut” sebagai ukuran kebenaran, maka sudah pasti dengan senang setiap penganut bagi masing-masing agama saling menghinakan agama lain [saya bukan pejuang plurisme]. Ini belum lagi cerita Paderi Katolik yang merogol dan meliwat. Maka kalau Barat menggunakan isu Safiah, kita juga boleh menggunakn isu Paderi Katolik. Tetapi saya yakin, Barat bukanlah bodoh hingga mengeksploitasi Safian untuk menghinakan Islam. Kalau benar, Barat adalam bangsa yang lebih bodoh dari orang yang percaya kepada tilikan Adi.

Yang harus kita sikapi, menolong Safiah untuk menjadi manusia baik kembali. Dan menolong Adi Putra untuk meninggalkan amal supernaturalnya. Malah kita harus menolong setiap insan di muka bumi ini untuk kembali kepada kebenaran, membimbing yang kesilapan, memjinjing yang keletihan dan mendoakan kepada seluruh manusia agar beroleh cahaya. Bukan mereka berdua sahaj, tetapi semua, tanpa batas ras, agama, budaya, bahasa, nasionalitas dan usia.