Benar itu apa?
Kalau ahli sufi mengatakan bahawa yang benar itu adalah ilham – berupa pemahaman yang deras dan pantas yang sampai di kalbu oleh Tuhan tanpa dipikir dahulu dan diolah oleh diri kita.
Bagi ahli atsar, yang benar itu adalah yang tertera pada tekstual dan yang tercatit pada lembar historis.
Kalau kata para logis, bahawa yang benar itu adalah berupa pemahaman yang tak menyimpang dari nalar bila pemahaman itu dibariskan diatas logika.
Mungkin para mistikus, yang benar itu adalah bila sesuatu yang ajaib berlaku atau punya kekuasaan misteri yang tinggi. Mungkin terbang dilangit, atau mampu menyembuhkan penyakit.
Tapi antara sekian banyak benar itu, rupanya saling bertolak belakang; antara logis akan berperang dengan mistikus. Benarnya seorang sufi adalah batlnya seorang atsari.
Justeru perang ini sudah lama berpanjangan. Ratusan tahun tak selesai, masih berantakan. Hampir 1000 tahun lebih ujung-ujung permuafakatan tak bertemu lagi. Sehinggakan banyak dari umat kita ini lelah dan lemah. Yang akhirnya ada sebahagian dari mereka terus tak mempercayai agama ini, ada yang tidak mau ambil peduli dan menjadi orang yang tak mengerti apa-apa dan jatuh ke kubangan nafsu.
Ada yang terus bersikukuh dengan paham mereka sehingga menjadi ekstrimis; yang selain dari mereka adalah ahli neraka. Dan ada yang terlalu luwes dan toleran sehingga semua agama itu adalah benar.
Sehingga titik ini, kita harus punya satu sikap yang tegas; mau meremehkan, atau mau memperketatkan atau mau adil dan saksama antara kedua sikap keterlaluan itu?
Akhirnya saya menggariskan 3 kaedah yang boleh digunapakai bagi mengukur kebenaran dalam pemahaman.
1)
Pemahaman kita itu harus bersumberkan hujjah yang akurat. Kalau dalam arti religus, maka ia bersumberkan dari 2 sumur iaitu al kitab dan al hadith yang sahih. Maknanya ialah setiap alasan kita untuk menetapkan sesuatu harus ada dalilnya. “ini dalilnya…” bagi keyakinan kita.
2)
Setelah diberangi dengan 2 sumber tadi, kita harus buktikan bahwa paham kita itu telah dianut oleh para pendahulu kita, sedari pendiri mazhab 4, para imam hadith, para sahabat. Andai paham itu baru muncul dan mereka tak sempat menganutnya, maka beratri paham kita itu adalah sesuatu yang tidak benar.
3)
Kita akhirnya harus membuktikan bahawa tuduhan yang dikenakan kepada kita oleh sang penuduh adalah berupa tuduhan palsu yang tak dibina diatas dasar ilmu. Dan buktikan juga bahawapaham-paham lain yang berseberangan dengan kita tidak berpijak pada hujjah yang benar.
akhirnya setelah selesai kita menjalankan 3 kaedah tadi, maka kita akan berhasil melihat kebenaran. apakah benar itu dipihak kita atau dipihal lain. Kalau dipihak lain, maka kita harus menurutinya tanpa rasa sesal dan gundah serta tanpa rasa payah.
Label: kaedah mencari kebenaran, perbezaan mazhab, sufi
April 24, 2008 at 6:42 am |
[...] Dalam ilmu Islam boleh saya katakan paradigma ialah manhaj. Paradigma baru vs paradigma lama menurut kata mantan KP sebuah institusi ‘status quo vs anti-establishment’ (TH Isemaail Basri). Justeru apabila dibawakan satu dalil yakni Al-Qur’an dan Hadis yang sama dan jelas, masih ada yang tegar memilih tafsiran yang berbeza. Oleh yang demikian, memilih paradigma / manhaj yang betul dalam memahami teks suci adalah amat penting dan perlu. (Rujuk Tinjau). [...]