Archive for February, 2008

Menifesto

February 29, 2008

Masih dalam ingatan aku bagaimana teman-teman berucap diatas pentas ketika aku berumur 16 tahun. Mereka menjanjikan sekian banyak angan-angan setelah usai menggantungkan lambang-lambang partai mereka. Ada patia pisang, partai Pokok, partai Bot. Dan janji yang mereka ucapkan itu ada berlegar diluar logika.

Apakah boleh dipercaya bahawa Mamu mau dirikan stadum bola dipadang sekolah kalau dia menang jadi pengawas? Bagaimana mau menerima ide menjadikan sekolah tampa pakaian seragam seperti di Amerika? Dan yang paling menggelikan hati adalah janji Laloq untuk tidak perlu ke sekolah lagi kalau dia diundi dan menang persiden.

Justeru oleh kerana terasa bahwa diri aku ini bakal menjadi perdana menteri malaysia suatu masa nanti, makanya aku telah siapkan sedikit menifesto aku awal-awal.

 1) Aku akan bikin jalanraya baru 10 tingkat untuk elak kemalangan

2) Aku akan bikin “hiway” disetiap kampung

3) Aku akan memberikan sebuah rumah secara percuma kepada setiap rakyat

4)

5)

6)

tuan-tuan boleh lah isis ide untuk membantu aku menyiapan menifesto pilihanraya

Munajat Di Kala Pemilu

February 29, 2008

Saya keluar rumah dari Dato Keramat menuju ke pejabat - Danau Desa - dengan keadaan hingar bingar dan semput-semputan. Kereta bergerak perlahan sambil mengesot macam anak kecil yang baru mau belajar meranggak. Semua mobil dan spedar berbaris panjang macam mau masuk bilik darjah. Pelan-pelan sambil melintasi orang yang memegang bendera merah ditangan. Dia - orang itu, selalu melambai-lambaikan benderanya.

Selepas melintasi orang itu, seperti anak murid yang telah melangkah masuk bendul pintu, maka berlarianlah menuju ke meja sendiri. Maka begitulah para mobil dan spedar tadi yang telah berlama-lamaan sambil mengetib bibir masing-masing kerna pasti mereka akan tiba lewat di kantor masing-masing.

Lalu malamnya pula saya ke Bukit Bintang, ketemu sama pyan - empunya ikatkata - dan seperti siangnya itu lah, maka saya terpaksa mengambil jalan yang jauh walhal dari tangga rumah saya ke Bukit Bintang itu hanya mengambil masa sekitar 15 minit. Ini kerna jalan ditutup - bikin jalan baru [naik taraf].

Kemudian saya berpikir, mengapa tak dinaik taraf saja jalan itu pada bulan June nanti, atau Agustus saja? Atau Disember tahun lalu? Mengapa jalan itu mau diganyang ketika pemilu mampir? Hummmm apakah ini bisa kita panggil sebagai Jalan Raya Politik? Mungkin juga.

Dan dengan sengaja juga, seluruh massa yang ada menunjukkan bahawa manusia-manusia yang pemurah bermunculan meghulur tangan menggapai salam marga marhain. Begitu juga manusia yang dhaif yang selama ini tertindas dengan kejamnya dunia mendapat habuah dari bantuan ikhlas orang “dermawan”. Para peneroka mendapat rumah baharu, para petani dibantu, dan dengarnya nanti akan dibuka sekolat Tamil baru di satu kawasan.

saya terus bermonolog lagi; apakah hantu pemilu itu sungguh menggerunkan sehingga para politikus kita berlomba-lomba mau buat kebajikan, seperti esok sudah tiada.

Kan indah kalau tiap-tiap tahun Pemilu dijalankan. Pasti banyak para dermawan dan para manusia berjiwa rakyat datang membanting tulang menolong umat.

Di Gerbang Itu

February 28, 2008

Di hujung jalan beting yang terbentang ditengah-tengah lautan luas - antara dataran yang barakah dan tanah yang berantakan, di gerbang yang terpacak di tanah berantakan itu tertulis sebuah kalimat yang menusuk jiwa, yang menggambarkan beting itu adalah sebuah neraka - tiada manusia pernah melepasi beting itu, tiada jiwa yang pernah sampai di daratan barakah sana:

“Tinggalkan segala harapan”.

 Lalu kata seorang wanita yang mengandung anak sulung kepada teman-teman pelariannya:

“Bagaimana kita mahu tinggalkan harapan sedangkan hanya itulah satu-satunya yang kita miliki”

                                                                                                          - Avatar: The Lagend of Ang

Dia Nafsu Ghairahku

February 6, 2008

Dia adalah inspirasiku dalam berkarya. Dengannya aku berkhayal. Dengannya aku selalu tersenyum.

Dia juga lah yang memberi aku kekuatan untuk terus bernafas di dunia yang kejam ini.

Aku tak pernah membawanya ke kamar khadi untuk dinikahi. Sumpah! Aku tak pernah menjadi suaminya. Namun aku selalu menyentuhnya. Haram? Apa kalian tahu? Biarlah apa yang kamu mau katakan. Apa yang kamu kutukkan - aku tak peduli.

Kau tahu; tiap kali aku memegang jasadnya, gelojak nafasku makin laju. Makin aku genggam erat jasadnya makin terasa berdebar. Jantung berdetak kencang. Dada semacam ombak, turun naik. Yang bermain dalam otakku hanyalah khayal yang asyik. Kau kalau menyentuhnya juga pasti akan ghairah.

Dia mulus. Jasadnya anggun. Punya potongan.Selalu mengenakan baju yang indah-indah. Kadang biru, kadang merah jambu, kadang putih.

Aku masih ingat saat mula aku belajar mencium. Aku memegang dia lalu aku letakkan hidungku ke badannya. Aku tarik nafas dalam-dalam - dengan cepat - takut orang melihat perbuatan aku. Kau tahu bau badannya semerbak apa? Aku sebenarnya tak berapa pasti apakah baunya itu seperti apa; bau bunga kah, atau parfum kah, atau bau kasturi. Yang pasti aku teruja dengan bau badannya saat pertama kali menhidu dan sehingga hari ini aku tak mampu untuk mengungkapkan apakah bau harum itu.

Aduh…. baunya yang harum akan aku terus mengingatinya. Kemudian aku mula menggilai bau harumnya itu. Kalau boleh aku meu menghirup dan meraba badnnya sebelum aku melelapkan kelopak mata. Mau aku rebahkan dia ke atas dada ini dan aku pelok erat. Aku mau tidur dengan dia dalam pelukan aku - hingga menjelang subuh yang dingin - kerna dia akan bisa memanaskan aku.

Dia adalah yang mengumpuli ghairahku.

Tika kulit tangan aku yang kasar dan mengerutu ini bersentuhan dengan kulitnya, dan aku melurutkan ke bawah, lagi bawah, kala itu aku dapat rasakan bahawa kulitnya sangat lah halus. Licin. Kulitnya yang tiada jerawat, atau jagat, senantiasa bersih, memang menambat hati ini. Setiap kali aku meraba dia, maka aku pasti akan menjadi gila - ghairah - gelojak nafsu meronta-ronta. “Aku mau Dia”. Aku mau bawa dia ke kamar. aku mau baring sama dia. Aku mau memeloknya, aku mau mencuimnya, aku mau meghidunya.

Tapi, dia selalunya tak bersuara. Walau aku sudah puas menggomolnya dan menelanjangkan bajunya, dia selalu membisu. Apakah dia tak puas dengan aku hingga mau mencari lelaki lain? Pasti aku seorang lelaki gagah, masih bertenaga, tak perlu minyak urut. Kaya? Aku juga kaya hingga mampu memilikinya. Apa lagi yang kurang? Bijak? Aku sudah belajar bertahun-tahun; masuk menara gading, membaca dan mengira dan menghapal. Cukup sebagai bukti aku bijak. Oh ya…. mungkin kerna aku tak pernah mahu memperisterikannya dan tak pernah melamarnya menjadi isteriku. Mungkin kerna itu!

Kau mengapa selalu membisu?

Walau kau selalu membenarkan aku mendampingimu dan membuat sesuka haitu keatas dirimu, tapi aku kepingin dengar suaramu dalam sedar. Apa kau kata: Kau sudah berbicara? Memang aku tahu kau selalu berbisik kepadaku dan memberi kesadaran kepadaku, tapi kala itu aku dibawah sadar. Yang aku mau kau mengucapkan cinta kepadaku, biar orang disekitarku mendengar sama.

Kau tahu wahai sayang ku, aku dahulu pernah kehilangan. Entah siapa yang menjahanamkan aku. Mereka merampas dia dariku, lalu dibawa lari hingga kini. Aku merana.

Kau, kalau kalu mereka si jahanam itu kembali dan membawa mu lari, pasti hilanglah jiwa ku ini. Jiwa yang aku serahkan semuanya kepadamu. Dan pasti nafas ini tak sekencang dahulu. Mungkin aku akn gila. Berhari-hari menyeru namamu di jalanan, hingga gilaku mengerang kuat menyebabkan aku terfikir kau ada di dalam laci almari. Kalau kau hilang, lenaku yang selalunya indah akan sirna, dunia akan kelam.

Kau rela dirimu dilarikan? Mungkin kau akan dilacurkan oleh orang jahanam nanti. Kau akan dibogelkan tiap-tiap waktu. Setelah kau dilacurkan, mereka akan melempari kau begitu sahaja. Melambung-lambung tubuhmu yang ringan dan akhirnya mereka membuangmu di pembuangan sampah seperti layaknya anjng kudis.

Kau ingat saat kita mula menaruh cinta dihati kita? Aku menemuimu di pustaka yang besar. Di celah-celah rangka besi almari itu, aku menarik jasadmu ke sudut pencil dan mencium mu, dan kau biarkan saja.

Tapi sekarang ini, aku terpaksa meminjamkan kau kepada teman-temanku. Aku mau kau bisikkan mereka sesuatu seperti kau bisikkan cinta kepada telinga ku kala ku di bawah sadar.

Aku bukan kejam dan sudah tak mencintaimu. Kau tetap sumber ghairahku - nafsuku.

Nanti mereka akan memulangkan kau dan akan meletakkan kau semula di rumahmu - rak buku.