Archive for December, 2007

Tukankenum Melawan Sang Kemuning

December 6, 2007

Pagi itu, tak macam selalu. Perasaan Tukankenum berkecamuk. dadanya naik turun. nafasnya laju dan jantungnya berdenyut kencang. dia tak keruan. dan air dingin mula menjelma di dahinya. menitislah manik-manik ke tanah.

Tukankenum coba untuk tenangkan dirinya. dia berdiri ditengah lapangan, mengdepakan kedua belah tangannya, menarik nafas dalam, biarkan udara segar menerobos paru. dan kemudian tangannya dengan cepat memegang perut.

Sakit makin merajai wilayah yang sempit itu, dan makin lama Tukankenum rasakan yang perutnya bergelojak tanpa mengasihani dirinya langsung. Sang najis mau keluar cepat tanpa tangguh walau sesaat.

Saat ini, sang Kemuning bergerak dengan pantas tanpa toleh ke kanan dan kiri, yang dia tau mau tuju ke kelumbil luar yang menutup gua yang panjang itu. Kalau dulu di zaman Cekgu Shahnon, sang kemuning hanyalah ketulan biasa. Yang berlendir biasa juga. dan tak panjang berjela-jela. Tapi kali ini kemuning bukan Kemuning yang lama. dia tak macam dulu-dulu.

Sekarang ini dia sudah kumpul segala semangat yang dahulunya berpisah-pisah. Dia berusaha sekian lama untuk menemu segala pemilik kekuatan yang ada didaerah lendiran. dia ke penjuru yang paling berliku, menemui benjolan-benjolan yang mengerutu. yang ketulan ini kalau dilontarkan maka akan berderai dan melekat keseluruh jagat. Dia bertapa di sana selama sepurnama. Kemudian ke ke baruh bila dengar khabar di sana ada kuasa hebat - hanyir yang pekat menghijau. Hanyir itu bisa meleburkan tangan manusia kalau tersentuh. kemudian dia berusaha mencapai maqam tertinggi dengan mengharungi kegelapan yang sempit selama 3bulan bersorangan. yang menemaninya hanyalah ulat kerawit dan bunyi ombak hitam serta lemdiran yang melemaskan. dalam masa 3 bulan itulah dia diuji dengan macam-macam. ada satu masa itu dia terpaksa bertarung dengan ketulan perompak. dan dia selamat. ada satu saat itu dia dilanda badai kuning yang membawa bangkai dan sisa makanan yang hanyir.

Akhirnya. Dan Akhirnya. Sang Kemuning menjadi Pendekar Kepalang.

Lantas dia terus menyusup bergerak seperti ulat beluncas , dengan ssah payah, menjaga tiap ketulan kuningnya agar tak terputus di jepit kolon perut. makan masa selama 4 purnama untuk sampai ke kolon besar. tiap kali dia lelalui satu kawasan kolon, maka ketulan-kelutan kuning yang hanyir dan berulat itu melekat kebadanya. dan kemudian mengeluarkan berjela-jela lediran hijau seperti hingus. maka tiap-tiap lendiran itu pula mengeluarkan bau busuk yang teramat sangat.

cukup 4 purnama, maka dia sudah tiba di kolon besar. dia seru ke angkasa kolon: “Hey najis sekelian, maka bergabunglah denganku, kerna kezaliman telah menguasai dunia luar sana. kita sebagai empunya ketulan najis paling membusukkan dan kekejian, berasa bertanggungjawab untuk membersihkan alam manusia. beban itu dipundaku. lalu aku menyeru kepada sekelian saudara najis ku maka bergabunglah. dan ingtlah bahawa Tuhan akan memberi ganjaran yang banyak atas usaha kita ini.”

Lalu semua najis kuning yang melekat di dinding kolon pun berguguran ke lantai dan berdenyut menuju ke Sang Kemuning. yang capek bertongkat, yang buta dipimpin, yang garing di papah. semuanyai mau bergabung dengan Najis Kepalang Busuk.

Setelah itu menjadi besarlah ia, seakan anak kucing. dan Sang Kemuning baru ini amat lambatlah ia berjalan bergenyut. walau lambat, walau tiap saat berhamburan lendir. walau tiad detik bau hanyir merembes, dia tetap sabar kerna yakin Allah akan membelanya dan menolongnya membersihkan dunia manusia.

lalu sampailah dia di lubang gua, yang diapit oleh dua ketulan daging kelumbit. pintu itulah yang memisah antara dunia kebusukannya yang penuh hanyir, lendir, ulat, najis, kuning, hijau, sisa. antara duani manusia yang durjana dengan dunia dia.

“aku harus keluar”

diam. memikir sejenak. bagaimana caranya membuka daun kelumbit itu kerna daun itu akan terbuka tanpadisangka dan ia dibuka tak tentu masa.

“ini jihad yang allah akan tolongi. aku harus rempuh”

dia menarik nafas. pejamkan matanya. mindanya ditumpu, dia pusatkan segala kekuatan hanyir nya dikepala yang tumpul itu. setelah itu, dia terus merempuh dengan segala kekuatan.

“gedebung”. bergegar dinding kolon. dia terpelanting. terjelepuk. bangun semula. menarik nafas dalam sampai ke ekor. dikumpulnya sekali lagi tenaga pendekar kepalang hanyir di kepalanya. menjulur sedikit kepala bundalnya ke hadapan, dan terus melanggar pintu itu. “gedebung”. dan dia sekali lagi terpelanting, kali ini sedikit jauh.

bangun kembali. dia harus kokoh membongkar pintu itu, dia ada tugas mulya. mau bersihkan dunia. dan miliknya adalah pahala 100 kali lipat dan syurga firdausi. diulangi apa yang telah dia lakukan. 10 kali dia merempuh dan 10 kali juga dia terpelanting. diagagahi lagi. 100 kali dia merempuh dan 100 kali dia terpelanting.

untuk kesekian kalinya dia merempuh, maka kelihatan pintu itu sedikit terkopak. dia yang sudah lelah itu dengan badannya yang penyek-penyek, terus bersemangat, seperti ditiup roh kekuatan. lantas bangun dan merempuh dengan sekuat hatinya.

“prekkkkkk” terhamburlah dia ke dunia manuisa. dan seketika itu juga setiap ketulan dijasadnya berpecah-pecah dan bertebaran seperti tanah yang berhambur terkena bom atom. melekat keseluruh tempat yang tergapai. lalu keadaan kalut dan cemas. semuanya menjadi kuning dan hanyir. seluruh bilik kecil itu berlumuran dengan najis Tukankenum.

Tukankenum terdudk kaku, dengan najis meleleh dikakinya. dia akur dengan kehendak tuhan. dan nanti dia harus bersihkan tandas itu.

apakah makna BERSIH bagi seketul najis yang hanyir? mungkin sang Kemuning tak mengerti bahawa dirinyalah yang najis yang menempek dan membusuk di dunia manunia.

Dialog

December 5, 2007

kata seorang yahudi kepada seorang india yang baru menjadi Muslim:

“Umat Islam berdoa kepada Tuhan agar di beri kekayaan. Maka Allah kabulkan. Lihatlah dimana minyak dikeluarkan dari perut bumi, semuanya dari negara Islam. Tapi kami mohon agar diberi kebijaksanaan, dan Allah kabulkan. Lihatlah bangsa yang menguasai dunia  - kami - yang menggunakan akal”

Kiamat Sudah Dekat

December 4, 2007

“cinta itu berhala yang disembah-sembah” - kiyai

Semalam Aku Mendapat Wahyu

December 4, 2007

semalam.

aku ke Sungai Besi. dengan Khairul Anam - teman sepejabat. jumpa sama seorang manusia separuh abad.

ada sejemput janggut yang memutih di dagunya. pakaiannya juga seperti janggutnya - putih. dia bercakap dengan lemah lembut. budi bicaranyaa cukup indah. dia akan menegur semua insan tanpa mengenal darjat.

orang bilang dia mengaku rasul. rasul melayu. kata orang lagi, dia selalu membicarakan wahyu-wahyu tuhan.

tak mungkin orang sebaik tu mengaku rasul.

aku tanya: “apa nama tuan”

“saya rasul. rasul dahri”

Apa Maknanya Sih?

December 1, 2007

itu bukan aku.  bukan! tapi aku punya ia. ya aku punya!

sebenarnya aku tak punya pilihan yang banyak, yang ada di otak. mungkin otak ini sudah tepu hingga tak mampu cerna kebijakan baru kerna terlalu banyak informasi dituapkan kepadanya. atau mungkin aku punya otak ini sudah mengecut macam kulit yang mengerutu tatkala kita keluar dari peti sejuk - mengecut dan mandul pikiran ini. dan keyakinan ke-2 itu lebih kuat kerna dalam bulan terkebelakangan ini aku tak mampu untuk menjamah satu buku pun!

lalu setelah berkali-kali mencuba nama yang sesuai, dengan keadaan otak yang “lemah tenaga batinnya” akhirnya aku pilih satu kalimat yang biasa-biasa saja. yang tak punya ritma yang hebat, yang tak punya makna agung, yang tak panjang berjela-jela; TINJAU.

ada apa ya dengan tinjau?

biar aku ceritakan kepada kau sedikit saja dari sejumlah alasan yang aku ciptakan untuk membenarkan kelakuan ini.

satunya aku rasakan aku mau jadi pemerhati, yang punya binokular besar di depan mata. yang dapat meneropong segalanya [malah hingga boleh menerobos dalam kelambu pasangan pengantin baru].

kita di beri dua mata, dan kemudiannya dua telinga. dan 2 belahan otak yang menghasilkan minda. maka apakah kewajaran kalau kita tak menggunakan semua ini dengan maksima? pasti kalau kita diberi kanta pembesar. akan menambah kualitas pemusatan mata kita. malah hal-hal kecil dan yang samar-samar juga bisa menjadi nyata!

tapi ini bukan niat saya. yang saya niatkan untuk TINJAU adalah mau membicarakan hal-hal yang menghantui minda ini saja, dengan pandangan saya sendiri. dan saya tidak peduli andai pandangan saya ini berseberangan, atau kelihatan mengancam pandangan umum. kerna kebebasan berpikir itu tak dapat dibendung dengan sekadar prasangka atau stikma, malah taqlid buta.

ijtihad tak mampu membatalkan ijtihad yang lain. tapi hujjah yang benar sumber dan penyebutannya itulah yang akan menundukkan sebuah ijtihad.

keduanya ialah tinjau ini sebenarnya adalah kepanjangan dari kalimat tinju, yang ditambah hurus awal rumi - A. jadi TINJU itu adalah segenggam jari jemari yang ditujahkan ke muka lawan, dengan niat untuk mencelakakan musuh / tersangka / korban. kalau tujahan itu kuat, maka bisa mematikannya, kalau sedikit kuat, mingkin mangsa akan rebah dan pengsan sekejap, atau juga akan gugur dan mengerang kesakitan. walau bagaimana keadaan mangsa, yaang pasti matanya akan lebab, dan mangsa tak akan dapat melihat dengan jelas, penglihatannya kabur. dan dia sudah pasti tak mampu menggunakan binokular. dan akhirnya aku lah seorang saja yang boleh pakai binokular dengan aman.

kau jangan ingat pula mangsa adalah manusia-manusia yang tak berdosa. itu silap. kerna aku manusia yang punya pertimbangan serta aku seorang melayu muslim. mangsa seharusnya adalah mansisa yang selalu tak memakai otak dalam berfikir. yang bisa kita katakan dia adalah manusia yang otaknya sejengkal dari otak lembu.

kerna itu, TINJAU sebenarnya tak punya andil yang besar untuk perubahan atau pembaikan, tetapi ia sekadar melahirkan perasaan marah dan geram. kerna aku manusia biasa-biasa saja.  seperti kata We We dalam bukunya Partai Orang Biasa; orang biasa itu mau hidup seperti biasa, pikir seperti biasa, makan seperti biasa. dan orang biasa itu kadang marah dan kadang gembira.

biar kita marah kalau kemarahan itu bisa menyedarkan kita!

selamat membaca